OPTIMALISASI BAKTERI Rhizobium japonicum SEBAGAI PENAMBAT NITROGEN DALAM UPAYA PENINGKATAN PRODUKSI JAGUNG

Jennifer Larisa Liem, Briliani Ayu Arianita, Shinta Sugiarti, Yoga Aji Handoko

Abstract


Jagung merupakan salah satu komoditi di Indonesia yang tingkat konsumsinya cukup tinggi sebagai pangan dan pakan. Namun seringkali dalam proses budidaya jagung mengalami defisiensi unsur hara nitrogen, sehingga mempengaruhi produksi jagung dalam negeri. Salah satu solusi yang dilakukan yaitu dengan penggunaan bakteri Rhizobium japonicum untuk memenuhi kebutuhan unsur N. Bakteri ini adalah salah satu bakteri penambat nitrogen yang dapat mengkonversi N dari udara bebas kedalam bentuk NH4+ dan NO3- agar dapat diserap oleh tanaman. Untuk mencapai pertumbuhan bakteri Rhizobium japonicum yang maksimal perlu diupayakan kondisi pH 6-7, kelembaban udara yang stabil, suhu 25-30˚C, dan ketersedian unsur hara molybdenum, besi, belerang, fosfor, kalsium, aluminium, dan mangan. Bakteri ini hanya dapat melakukan simbiotik dengan tanaman kedelai saja, sehingga untuk meningkatkan produksi jagung dilakukan pola penanaman tumpangsari antara jagung dan kedelai.

Keywords


Rhizobium japonicum; produktivitas jagung; penambat nitrogen; lemahemoglobin

References


Arimurti. (2009). Karakterisasi Rhizobia Indigenous Edamame Sebagai Kandidat Pupuk Hayati. Jurnal Ilmu Dasar, 10: 30-37.

Campbell, N. A. Jane, B. R. Lawrence, G. M. (2003). Biologi Eidisi Kelima Jilid II, Erlangga, Jakarta, 347.

Ditjen Tanaman Pangan. (2008). Pedoman Umum: Peningkatan Produksi Dan Produktivitas Padi, Jagung, Dan Kedelai Melalui Pelaksanaan SL-PTT. Dirjen Tanaman Pangan, 72.

Gardner, F. P., R. B. Pearce, dan R. L. Mitchell. (1991). Physiology of Crop Plants (Fisiologi Tanaman Budidaya, alih bahasa: Susilo dan Subiyanto). UI Press, Jakarta.

Gerendas, J. dan Sattelmachner. (1990). Influence of Nitrogen Form and Concentration on Growth and Ionic Balance of Tomato (Lycopersicon esculentum) and Potato (Solanum tuberosum). (Proceedings of the eleventh International Plant Nutrition Colloqium)

Handayanto, E. dan Hairiah K. (2007). Biologi Tanah. Pustaka Adipura, Yogyakarta, 198.

Hanum, C. (2010). Pertumbuhan dan Hasil Kedelai Yang Diasosiasikan dengan Rhizobium Pada Zona Iklim Kering E (Klasifikasi Oldeman), Jurnal Ilmu-Ilmu Hayati dan Fisik, 12(3):176-183.

Hardjowigeno, S. (2007). Ilmu Tanah. Akademika Pressindo, Jakarta, 296.

Hastuti, Y. P. (2011). Nitrifikasi dan Denitrifikasi di Tambak, Jurnal Akuakultur Indonesia, 10(1): 89-98.

Indriati, T. E. (2009). Pengaruh Dosis Pupuk Organik dan Populasi Tanaman Terhadap Pertumbuhan serta Hasil Tumpangsari Kedelai (Glycine max L.) dan Jagung (Zea mays L.) (Tesis, Program Pascasarjana).

Kementerian Pertanian. (2015). Modul Pemberdayaan dalam Upaya Khusus Peningkatan Produksi Padi, Jagung dan Kedelai Tahun 2015. Kerjasama Kementerian Pertanian RI dengan Perguruan Tinggi, Jakarta, 34.

Kristanto H.B, Simbar S.M, Sumarni T. (2002). Pengaruh inokulasi Azospirillum terhadap efisiensi pemupukan N pada pertumbuhan dan hasil tanaman jagung (Zea mays L.). Agrivita, 24(1), 74-79.

Long, S.R. (1996). Rhizobium Symbiosis: Nod Factors in Perspective The Plant Cell. 8: 1895-1898.

Lubis, D. S., Hanafiah, A. S., Sembiring, M. (2015). Pengaruh pHterhadap Pembentukan Bintil Akar, Serapan Hara N, P dan Produksi Tanaman pada Beberapa Varietas Kedelai dada Tanah Inseptisol Di Rumah Kasa. Jurnal Online Agroteknologi, 3(3), 1111-1115.

Madigan, M.T., J.M.Martinko dan J. Parker. (2000). Biology of Microorganisms. 9th edition. Prentice Hall International. Inc. New Jersey.

Ni’am, A. M dan Bintari, S. H. (2017). Pengaruh Pemberian Inokulan Legin dan Mulsa terhadap Jumlah Bakteri Bintil Akar dan Pertumbuhan Tanaman Kedelai Varietas Grobogan, Jurnal MIPA, 40(2): 80-86.

OECD [Organisation for Economic Co-operation and Development], 2015. Biosafety and the Environmental Uses of Micro-Organisms: Conference Proceedings. www.fao.org/docrep/meeting/028/mg 339e.pdf. Diakses tanggal 16 Maret 2019.

Prasastyawati, D. dan F. Rumawas. (1980). Perkembangan bintil akar Rhizobium japonicumpada kedelai. Buletin Agronomi, 21(1), 4.

Salle, A. J. (1961). Fundamental Principles of Bacteriology. Mc. Graw-Hill Book Company, Inc. New York, 719-739.

Simanungkalit, R. D. M., Didi, A. S., Rasti, S., Diah, S., dan Wiwiek, H., (2007). Pupuk Organik dan Pupuk Hayati. Bogor: Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, 1-10.

Surtiningsih, T. Farida dan Tri, N. (2009). Biofertilisasi Bakteri Rhizobiumpada Tanaman Kedelai (Glycine Max (L) Merr.), Berk. Penel. Hayati, 15: 31-35.

Turmidi E. (2002).Kajian Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Dalam Sistem Tumpangsari Jagung dengan Empat Kultivar Kedelai Pada Berbagai Waktu Tanam, Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Indonesia, 4(2): 89-96.




DOI: http://dx.doi.org/10.31850/jgt.v8i1.413

Article Metrics

Abstract view : 37 times
ARTICLE (Indonesian) - 1 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Index by:

------------------------------------------------------------------------------

Creative Commons License
This Jurnal Galung Tropika is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

JGT diterbitkan oleh Fakultas Pertanian, Peternakan dan Perikanan Universitas Muhammadiyah Parepare.

Kampus II, Jl. Jend. Ahamad Yani KM. 6 Parepare Sulawesi Selatan 91113

e-pos (surel): jgt@jurnalpertanianumpar.com